Pertemuan Dharmayukti Karini Cabang Pangkajene dalam rangka Memperingati Hari Ibu ke-97

Pangkajene dan Kepulauan, 18 Desember 2025, 09.00 Wita — Pertemuan Dharmayukti Karini Cabang Pangkajene dilaksanakan di Ruang Cakra, Pengadilan Agama Pangkajene, dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-97 sekaligus sebagai pertemuan rutin anggota.
Kegiatan tersebut diawali dengan pembacaan doa, dilanjutkan dengan sambutan, dan secara resmi dibuka oleh Ketua Dharma Yukti Karini Cabang Pangkajene Ibu Ny. Yurike Rico Sitanggang, yang disampaikan secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting. Dalam sambutannya, beliau mengawali dengan mengucapkan selamat dan salam hormat kepada seluruh peserta yang telah bergabung dalam kegiatan Dharma Yukti Karini, serta berharap silaturahmi ini senantiasa terjalin dengan baik. Di akhir sambutannya, beliau juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh peserta karena belum dapat bersua secara langsung, serta berharap kegiatan tetap dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota.


Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kisah inspiratif yang disampaikan oleh Ketua Pengadilan Agama Pangkajene, Ibu Dr. Wildana Arsyad, S.H.I., M.H.I. Dengan suara yang penuh keteguhan dan keharuan, beliau membagikan perjalanan hidupnya sejak diangkat menjadi CPNS pada usia yang masih sangat muda, yaitu 24 tahun.
Pada awal pengabdiannya, Ibu Ketua harus menerima kenyataan pahit ditempatkan di wilayah Papua, yang pada masa itu masih diliputi kondisi konflik sehingga menjadi pengalaman awal pengabdian yang penuh tantangan dan ujian. Sebagai seorang perempuan muda yang jauh dari keluarga, beliau menghadapi rasa takut, kesepian, dan berbagai tantangan berat yang tidak mudah dijalani. Namun, di balik rasa cemas dan air mata, beliau tetap bertahan demi tanggung jawab dan pengabdian.
Di tengah beratnya perjuangan tersebut, Ibu Ketua menyimpan harapan besar untuk terus melanjutkan pendidikan hingga jenjang S3. Dengan penuh kerendahan hati dan doa yang tak pernah putus, beliau mengajukan permohonan pindah tugas ke wilayah Sulawesi. Penantian panjang yang diliputi rasa cemas akhirnya terjawab. Permohonan tersebut dikabulkan, dan beliau dipindahkan ke Toraja. Perpindahan itu menjadi titik terang dalam perjalanan hidupnya—sebuah awal baru setelah masa-masa penuh ujian dan kelelahan batin.
Setelah berkeluarga, Ibu Ketua kembali dihadapkan pada ujian kehidupan yang tidak mudah. Ketika usia kandungannya memasuki tujuh bulan, kondisi kesehatannya menurun sehingga beliau harus menghentikan sementara aktivitas kantor dan menjalani masa istirahat. Ujian tersebut belum berakhir. Tidak lama setelah melahirkan, buah hatinya mengalami kondisi medis yang serius. Pada usia tiga bulan, dokter menyatakan bahwa sang anak harus menjalani tindakan operasi.
Di tengah perjuangannya mendampingi sang anak, Ibu Ketua juga mengalami gangguan kesehatan hingga kembali harus beristirahat dari tugas dan tanggung jawabnya sebagai seorang PNS. Perjuangan panjang demi keselamatan dan masa depan anaknya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup beliau. Kisah ini mencerminkan ketekunan, kesabaran, dan ketabahan seorang ibu sekaligus abdi negara dalam menghadapi ujian pribadi tanpa melepaskan tanggung jawab dan pengabdian.
Kisah ini disampaikan sebagai motivasi dan inspirasi bagi seluruh anggota Dharmayukti Karini, agar senantiasa berusaha dengan sungguh-sungguh, tidak takut menghadapi tantangan, serta tetap berkomitmen pada pendidikan, keluarga, dan pengembangan diri.
Perjuangan dalam menjalani kehidupan keluarga dan karier, beliau sampaikan beberapa pesan penting dalam hidup, yaitu:
- Hidup harus selalu disyukuri dalam setiap keadaan.
- Kesabaran menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan.
- Hidup memerlukan pengorbanan, baik waktu, tenaga, maupun perasaan.
- Kejujuran dan integritas harus dijaga dalam setiap langkah kehidupan.
- Kepercayaan merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan dan tanggung jawab.
Sebagai pesan terakhir, beliau berpesan agar jangan pernah meninggalkan dan melupakan orang tua, terutama ibu kandung, karena doa yang tak pernah putus dan pengorbanan merekalah yang menjadi kekuatan utama hingga kita dapat berhasil dan berdiri sampai detik ini.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan pengundian arisan anggota Dharmayukti Karini, dan selanjutnya acara ditutup dengan sesi foto bersama sebagai dokumentasi serta simbol kebersamaan seluruh peserta.


























